Category Archives: Uncategorized

Pentingnya Industri Olahan dan Manajemen Stok

Cabai termasuk salah satu komoditas hortikultura yang kerap menyumbang inflasi. Harganya sangat berfluktuasi dengan kesenjangan yang dalam. Harga di tingkat petani pernah sampai tinggal Rp2.000-an per kg hingga petani tidak mau memanen cabainya di kebun. Dan sebaliknya pernah melambung ke angka Rp40 ribuan per kg sehingga di tingkat konsumen mencapai hampir Rp100 ribu per kg.

Padahal secara jumlah, produksi cabai nasional mencukupi, tetapi sebaran produksinya setiap bulan tidak merata. Masih ada bulan-bulan “kosong” yang memicu gejolak harga. Misalnya tanam saat penghujan mulai November hingga Maret. Panen berlangsung sampai Juli. Agustus kosong karena tidak ada air. Inilah perlunya pemerintah memberi bantuan pompanisasi. Karena itu pemerintah cq Ditjen Hortikultura, Kementerian Pertanian, bekerja keras untuk meng atasi permasalahan kronis tersebut.

Misalnya melalui pengaturan waktu tanam di sentra-sentra produksi dan memberikan bantuan sarana pengairan sederhana kepada petani agar mau bertanam saat kesulitan air. Untuk perbaikan produktivitas, masih banyak yang perlu dilakukan untuk petani. Tidak sebatas memberikan bantuan bibit, tetapi juga bantuan teknologi. Perlulah memodernisasi cara mereka berbudidaya. Tidak usah yang mahal, mulailah dengan plastic house dulu. Kita positive thinking saja, kita berharap semoga apa yang dilakukan teman-teman dari Kementerian Pertanian dengan langkah dan strategi mereka bersama anggaran yang sudah dikucurkan betulbetul bisa memberikan, satu: bagi konsumen, tidak akan menerima gejolak harga yang signifikan, dua: untuk petani, bisa menikmati harga yang reasonable, sedikit lebihlah dari hari-hari biasa.

Dukung Industri Olahan

Sebenarnya cabai bukan cuma urusan Kemen terian Pertanian, tetapi juga menyangkut Kemen terian Perdagangan dan Perindustrian, bahkan sekarang tambah Bulog. Saat ini pemerintah kita kurang koordinasi dan masih terjadi ego sektoral dalam menangani cabai. Ini harus ada wasitnya supaya petani tidak menjadi korban karena ketidakpastian pasar. Ketidakpastian tersebut antara lain dipicu oleh fakta bahwa cabai dijual petani sebanyak 99% dalam bentuk segar. Di sisi lain industri pengguna cabai, khu susnya produsen mi instan, melakukan impor ca bai bubuk sekitar 1.100 ton/tahun atau setara 9.000 ton/tahun (30 ton/hari) cabai segar. Padahal permintaan terhadap mi instan cenderung naik terus.

Berarti ini ada peluang untuk memproduksi cabai bubuk. Namun saat ini peluang tersebut malah di nikmati petani India dan Tiongkok. Industri kita tidak mau membeli produksi lokal (untuk cabai bubuk) karena harga cabai dari petani mahal. Harus dikaji mengapa India murah? Apakah memang dikonsumsi manusia atau bahan reject di India? Apakah itu barang disubsidi habis-habisan di sana? Jangan pula petani kita dipaksa mengikuti standar harga India.

Penulis setuju industri makanan minuman kita harus maju, tetapi petani kita harus dilindungi dan industri dikasih bantuan. Jangan sampai hanya memikirkan industri lantas bebas impor karena lebih murah. Lebih murahnya ini kenapa dicari dulu sebabnya. Jangan-jangan ini “sampah” di India atau di sana kelebihan stok lalu dibeli pemerintahnya lalu diekspor ke Indonesia daripada tidak laku. Ini harus dikaji mendalam. Pemerintah harus mampu menggerakkan industri saus nasional untuk mengurangi atau menyetop impor cabai. Selama ini pengolah cabai masih didominasi industri besar. Padahal produksi saus dan bubuk cabai tidak perlu teknologi tinggi, tetapi mutlak harus dijaga higienisitasnya.

Jadi, sebaiknya pengembangan produk olahan cabai tidak bertumpu pada industri besar saja, tetapi juga manfaatkan UKM dengan dukungan Kementerian Pertanian, Kementerian Perindustrian, dan Kementerian Koperasi dan UKM. Untuk mengembangkan pasar cabai olahan, kita juga perlu mengubah mindset (cara pikir) masyarakat. Jangan setiap hari hanya menginginkan cabai segar. Konsumsilah sambal, bubuk cabai, cabai kering, atau cabai beku. Seperti di Jepang, masya rakat sudah terbiasa menggunakan cabai kering. Bila ingin membuat sambal, rendam dulu dengan air panas, setelah lunak baru digerus. Masih pedas rasanya. Sejauh ini sudah ada beberapa pelaku UKM yang memproduksi sambal siap santap. Tapi ini perlu lebih dikembangkan lagi. Petani juga bisa diajak memutar roda ekonomi di daerah setempat dengan membangun kemitraan bersama perusahaan kecil. Tentu dalam hal ini diperlukan dukungan kebijakan pemerintah.

Manajemen Stok

Dari sisi budidaya, kita harus mengadakan gudang penyimpanan berpendingin di dekat sentra produksi. Kalau panen raya tapi ada berlebihan produksi, tidak usah langsung dikirim ke pasar. Disimpan saja di gudang tersebut. Lalu, kita juga harus memperbaiki manajemen stok di pasar.  Misalnya, berapa kebutuhan pasar di Jakarta, terutama Pasar Induk Kramatjati per sehari. Komunikasikan hal ini ke pemerintah daerah sentra cabai dan buat kesepakatan tentang kuota pasokan masing-masing daerah (kuota). Katakan hari ini Jawa Barat hanya boleh masuk 80 ton, Jawa Timur 80, Jawa Tengah 40 ton. Pedagang atau seseorang yang berangkat dari Jateng harus membawa barang dengan legalisasi (distempel) bahwa barang itu benar dari Jateng lewat stasiun agribisnis mereka di sana.

Kalau sudah masuk 40 ton, tidak boleh masuk lagi. Sebaliknya kalau hari ini Jabar dikasih jatah 80 ton boleh masuk ke Pasar Induk Kramatjati (PIKJ), tetapi ternyata tidak mampu, minimum dua hari sebelumnya sudah menyampaikan ke pihak pengelola pasar DKI Jakarta bahwa mereka hanya bisa suplai misalnya 60 ton dan terjadi kekurangan 20 ton. Untuk mengatasi kekurangannya, pengelola pasar DKI mengeluarkan stok yang ada di pasar. Nah, di sinilah PIKJ kita harus diperbaiki. Kita bisa lihat contoh di Singapura atau Melbourne (Australia), buka dari jam empat subuh sampai jam sem bilan pagi. Jam sembilan tutup, lebihnya masuk gudang berpendingin. Dengan manajemen stok seperti itu, harga akan stabil. Jangan lagi begitu harga naik, dibilang ulah mafia. Di sinilah peran pemerintah duduk bersama stakeholderlain. Pemerintah terdiri dari Kementerian Pertanian, Perdagangan, dan Perindustrian (ka rena industri menggunakan bahan baku, jadi tidak usah impor) juga pemda. Libatkan juga organisasi petani. Dari sana dapat diketahui kebutuhan industri makanan dan minuman Indonesia dan jumlah produksi riil cabai.

Khusus menghadapi hari-hari besar keagamaan, memang ada peningkatan permintaan sehingga perlu diantisipasi dengan melakukan pola tanam jauh-jauh hari. Dengan begitu, tambah an permintaan misalnya saat bulan puasa dapat terpenuhi. Terkait harga, berilah kenikmatan sedikit bagi petani untuk menikmati itu. Ibaratnya transportasi ada harga maksimal. Berikan harga di atas rata-rata tetapi tidak lebih dari 25%. Setelah manajemen stok, infrastruktur di pasar-pasar perlu diperbaiki. Perbanyak gudang-gudang berpendingin untuk menyimpan kelebihan pasokan cabai. Lalu sistem rantai pasok juga diperbaiki.

Kita harus memperkuat organisasi petani. Idealnya dalam bentuk koperasi, seperti di Jepang, Belanda, dan Inggris, koperasi mereka sangat kuat. Petani mereka makmur. Untuk membuat petani Indonesia makmur, mereka perlu diberdayakan. Mereka memerlukan bantuan modal kerja. DPR membuat peraturan perundang-undangan agar petani bisa menarik napas, misalnya dengan memberikan waktu dua tahun tanpa mencicil pinjaman modalnya dari perbankan. Dalam masa dua tahun itu, pemerintah memberikan subsidi bunga dan pinjaman, jadi tidak hanya subsidi bunga. Ini tugas Menteri Keuangan untuk mengaturnya. Bank Indonesia juga bekerja sama dengan bank-bank untuk mencegah human error dalam pelaksanaannya.

Sejahterakan Petani Lewat Kemitraan

Pemerintah menilai salah satu solusi menyejahterakan petani adalah dengan mengendalikan fluktuasi harga cabai. Fluktuasi yang menyebabkan inflasi ini di antaranya terjadi karena adanya permasalahan off farm, panjangnya rantai pasok dari petani hingga masuk ke pasar. Untuk memotong panjangnya rantai pasok, bisa dilakukan dengan menjalin ke mi traan, baik itu dengan pemerintah maupun swasta.

Baca Selanjutnya : kota-bunga.net

Terkait kemitraan itu, 1 Maret 2016, Dirjen Hortikultura, Spudnik Sujono menandatangani nota kesepahaman dengan Pimpinan PT Gunung Agro Mas Lestari (GAML) di Solo. MoU ini ditujukan untuk menstabilkan harga cabai di Jakarta dan sekitarnya dengan memasok cabai ke Jakarta dan sekitarnya. Kemitraan dengan Avalis “Selama ini rantai pasok dari petani menuju pedagang besar terlalu panjang,” terang Pieter G. Tangka, Dirut PT GAML. Menurutnya, bandar pemasok dan pedagang besar/grosir di Pasar Induk merupakan dua agen yang sangat menentukan harga. “Semisal kedua pihak menentukan harga Rp20 ribu/kg, maka harga sampai ke konsumen sebesar Rp35 ribu/kg. Dan setelah menerima pembayaran, harga yang sampai ke petani ha nya Rp9.000/kg.

Jadi kalau harga tinggi di konsumen itu belum tentu harga tinggi juga di petani,” urainya. Avalis, menurut, Pieter berperan memangkas panjangnya rantai pasok yang terurai dari petani, penebas, pengepul, bandar pemasok hingga ke pedagang besar. Semisal pedagang besar membeli cabai dari avalis dengan harga Rp20 ribu/kg, maka petani juga akan menerima harga Rp20 ribu/kg. Avalis sendiri merupakan bagian atau kesatuan dari petani. Ia wajib mengeluarkan modal dalam rangka pembiayaan input produksi sehingga dibutuhkan juga MoU antara avalis dan petani. Sebagai avalis, Pieter menanggung seluruh biaya produksi, sedangkan petani cukup menyediakan lahan dan tenaga saja. Persentase pembagian hasil yang disepakati antara Pieter dengan petani adalah 50:50. Kemitraan dengan Industri Petani juga dapat bermitra langsung dengan industri pengolahan cabai. Salah satu kemitraan yang telah terjalin adalah antara PT Indofood dengan Kelompok Tani Bina Mitra Usaha Tani Horti – kultura “MultiAgro Makmur” di Jember.

Pola kemitraan perusahaan dengan petani juga memotong jalur distribusi yang panjang. Indofood memberikan pinjaman kepada kelompok taniuntuk modal produksi. David Tjiptahardja, perwakilan PT Indofood dalam diskusi terbatas tentang cabai Maret silam, mengatakan, pihaknya menjalankan kemitraan dengan petani sejak Februari 2009. Kesepakatan antara industri itu dengan kelompok tani meliputi harga, kualitas, kuantitas, dan kontinuitas, sistem dan kemitraan, dan kesepakatan waktu. Selain itu, petani harus menanam komoditas sesuai kebutuhan perusahaan.

Selain menandatangani kesepakatan, Indofood melakukan pendampingan mulai dari sosialisasi proses penanaman cabai, perawatan, pemetikan, dan penyortiran yang baik. Petani juga diinformasikan tentang persyaratan higienis cabai untuk pengiriman ke pabrik. Sutrimo, Ketua Kelompok Tani MultiAgro Makmur mengakui, pendampingan di lapangan penting untuk dilakukan. “Kami juga diajari soal administrasi berorientasi bisnis. Ada keterbukaan harga,” ujarnya.