Dua Rumah dalam Satu Lahan

Demi adiknya, sang pemilik mengambil keputusan merenovasi rumah yang cukup ekstrem yaitu membagi fungsi massa bangunan menjadi 2 rumah. Ada waktunya pada saat di mana rumah yang memiliki ukuran besar terasa luas akan tetapi juga terkesan dingin. Di sisi lain, ada rumah mungil tapi mampu menghadirkan kehangatan keluarga dengan lebih maksimal. Alasan inilah yang membuat sebagian orang rela pindah dari rumah mereka yang lebih luas ke hunian yang lebih mungil.

baca juga : harga genset Yanmar

Ada juga memiliki alasan personal yang lainnya, seperti yang telah dilakukan oleh seorang bernama Shidiq Quantoro (30). Ingin mengajak adiknya tinggal bersama namun tetap mempertahankan privasi masing-masing keluarga, Shidiq merenovasi huniannya yang terletak di daerah Cirendeu, Jakarta Selatan, dengan permintaan yang cukup spesial terhadap Principal Architect If:d, Imron Yusuf. Luas lahan yang semula 240m2, kini dibagi 2 menjadi 120m2.

Sarat Kaidah Tropis

Bermula dari sebuah bangunan rumah yang keadaan fisiknya sudah tak memadai untuk ditinggali, bangunan ini direnovasi total dengan perubahan ekstrem pada organisasi ruangnya. Imron membangun 2 bangunan rumah dengan fasad yang menyambung, meski masing-masing rumah dipisahkan dengan dinding pembatas masif mulai dari area eksterior hingga interiornya. Satu satunya pembatas tak masif yang digunakan adalah pagar bambu yang memisahkan taman belakang kedua rumah ini.

“Saat dibutuhkan, pagar bambunya tinggal digeser. Praktis, kan?” ucap Shidiq, yang menjalani hidup berdua bersama dengan istrinya, Chikita Aprilianti (29), pada rumah di bagian sayap kiri. Lahan mungil tak membuat kreativitas Imron padam. Ia berhasil menciptakan hunian dengan segala kaidah bangunan tropis yang menunjang faktor alam. Void tinggi–sesuai permintaan Shidiq–dibuat pada ruang keluarga, sehingga udara panas dapat naik hingga plafon dan meminimalkan kesan sesak. Bukaan besar dan luas dihadirkan untuk memaksimalkan sirkulasi udara dan cahaya.

Efisien dan Hemat Biaya

“Sesuai dengan semangat untuk mewujudkan low cost house, pada finishing arsitektural bangunan juga dibuat sesederahana mungkin dan seefisien mungkin, akan tetapi tanpa menghilangkan estetika dan kenyamanan bangunannya sendiri,” Imron menjelaskan. Bangunan yang memakan waktu pembangunan sekitar 7 bulan ini memang sebagian besar areanya memanfaatkan bahan dasar bangunannya sebagai finishing.

Misalnya, pada dinding bata ekspos yang juga menjadi dinding struktural untuk bangunan rumah, serta semen ekspos di bagian area lantai dan dinding. Meski menuntut kerapihan yang tinggi dalam pengerjaan, hunian bernuansa unfi nished ini berhasil merepresentasikan kebutuhan pemilik dengan sangat baik. Penghuni dapat menikmati suasana rustik yang alami pada setiap sisi rumahnya. Pada kesempatan lain, ia juga bisa untuk mengembangkan rumah ini menurut dari kebutuhan masa depannya dan sesuai konsep rumah tumbuh yang diakomodasi sang arsitek.

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *