Fenomena Konsumsi Plasenta

Benarkah bermanfaat atau malah berisiko infeksi? Yuk, kita telusuri penelitiannya! Ketika bintang Kardashian mengatakan ia mengonsumsi plasenta bayi yang baru dilahirkannya, banyak reality show Kim orang kaget dan menganggap ganjil. Padahal, Kim bukanlah orang pertama yang melakukannya. Kebiasaan ini telah dilakukan masyarakat Tionghoa sejak ribuan tahun lalu.

Baca juga : Kerja di Jerman

Di dalam ilmu biologi, kita juga tahu, hewan memakan plasentanya segera setelah bayi mereka lahir. Aksi memakan plasenta ini disebut placentophagy. Sama seperti pada zaman Tiongkok Kuno, Mama zaman sekarang yang memakan plasenta bayinya juga meyakini bahwa hal itu akan mengembalikan energi, membantu membersihkan rahim, meningkatkan produksi ASI, serta mempercepat selesainya perdarahan pascamelahirkan. Demikian menurut situs BabyCentre.

Pada kehamilan, plasenta bertindak sebagai pengantar makanan dari Mama ke janin, juga sebagai penyaring untuk menyerap dan melindungi pertumbuhan si calon bayi dari racun dan polutan. Plasenta mengandung prostaglandin yang menstimulasi kontraksi rahim sesudah melahirkan, juga sedikit hormon oksitosin (hormon yang banyak diproduksi saat menyusui). Karena itu, banyak juga yang percaya jika plasenta dapat membantu merangsang keluarnya ASI.

Namun, apakah manfaat yang disebut di atas memang sudah terbukti secara medis? BERSIFAT SUBJEKTIF Seorang dokter sekaligus peneliti bernama Dr. Kristal Clark awalnya terkejut, namun kemudian tertarik pada fenomena para mama yang bersedia memakan plasenta bayinya ini. “Beberapa pasien bertanya ke saya, apa manfaat mengonsumsi plasenta.

Selidik punya selidik, ternyata hal ini sedang menjadi tren dan pengonsumsinya semakin banyak,” kata Dr. Clark. Kemudian, Dr. Clark bersama tim peneliti dari Northwestern University mulai mengadakan evaluasi terhadap 10 studi tentang placentophagy. Dalam evaluasinya, mereka tidak menemukan adanya bukti bahwa konsumsi plasenta bisa memberikan energi pemulihan, mengurangi sakit pascamelahirkan, meningkatkan produksi ASI, ataupun membuat kulit jadi elastis.

Yang dimaksud konsumsi plasenta di sini adalah konsumsi dalam bentuk mentah, matang, ataupun pil. ‚ÄúPenelitian yang menunjukkan manfaat plasenta ternyata lebih banyak berdasarkan pada laporan-laporan yang bersifat subjektif atau bersifat sugesti,” tambah Dr. Clark.

Sumber : https://ausbildung.co.id/

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *