Pengadaan Radar Pertahanan Udara

Pengadaan Radar Pertahanan Udara

Kerja sama Indonesia-Thales dimulai sejak 1959. Produk terakhir yang dibeli adalah lima unit Master T pada 2006-2012. Adapun tujuh radar lain diproduksi perusahaan asal Inggris, Siemens Plessey. Menurut seorang perwira TNI, performa delapan radar buatan Thales sudah menurun lantaran dimakan usia. Salah satunya, daya jangkau pancaran yang rendah. Selain itu, teknologi Thomson usang. Thomson, antara lain, mulai kehilangan kemampuannya sebagai primary surveillance radar (PSR). ”Kemampuan PSR mulai lemah. Tinggal sepertiganya.” Thomson cuma bisa berfungsi sebagai secondary surveillance radar (SSR).

Padahal, idealnya, radar pertahanan udara punya kemampuan primary dan secondary surveillance sekaligus. Primary surveillance berfungsi menangkap sinyal pesawat militer dan komersial. Sedangkan secondary surveillance cuma bisa menangkap sinyal pesawat komersial. Pesawat komersial menggunakan transmitter responder sehingga terdeteksi. Adapun pesawat militer tidak menggunakan perangkat sinyal otomatis itu. Menurut perwira tadi, pemeliharaan mengalami kendala karena Thales mengunci akses perangkat keras dan lunak radar serta mematok harga suku cadang yang tinggi. ”Semuanya diblok,” katanya. Selama kurang-lebih 50 tahun, Thales juga menutup pintu transfer teknologi untuk Indonesia. Bukan hanya itu, lima unit Master T yang dibeli pemerintah dari Thales pada 2006-2012 ternyata tak diproduksi lagi oleh perusahaan tersebut. Pada 2006, Thales sudah mulai menjual radar baru tipe GM400. ”Kita beli barang cuci gudang.”

Wakil Ketua Komite Kebijakan Industri Pertahanan Eris Heriyanto membenarkan tiadanya transfer teknologi dari Thales. ”Saat itu memang tak dipersyaratkan,” katanya.  Tapi, menurut Sekretaris Jenderal Kementerian Pertahanan pada 2010- 2013 itu, Undang-Undang Industri Pertahanan saat ini memaksa produsen melakukan transfer teknologi supaya industri lokal bisa mendukung pemeliharaan radar. ”Sekarang kami menuntut itu.” Eris membantah rumor bahwa pemerintah membeli barang cuci gudang dari Thales. Kepada Tempo, Thales, melalui perusahaan rekanan di Indonesia, PT CITAC, menyangkal mengunci segala akses radar buatannya dan mempersulit suku cadang. ”Bagaimana TNI mengoperasikannya kalau kami kunci?” ujar Direktur CITAC Ahmad Riyad. Soal tak ada transfer teknologi, itu dilakukan Thales karena kemampuan dan faTHALES GM 40.

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *