Penghapus Peta Laju Tembakau Bagian 2

Selama empat jam, peserta rapat ber bagi pendapat. Mereka umumnya khawatir target menaikkan produksi rokok pada akhirnya akan membahayakan anak-anak. ”Anak-anak dan perokok pemula selalu menjadi sasaran empuk,” ujar Hery. Ia mengutip data perokok usia 10-14 tahun yang meningkat 68,5 persen selama 2001-2013. Adapun perokok usia 15-19 tahun meningkat sekitar 37,3 persen. Berangkat dari kekhawatiran bersama, peserta rapat sepakat untuk mengirimkan teguran (somasi) kepada Menteri Perindustrian. Somasi pertama mereka kirimkan pada 4 Januari 2016.

Somasi mempertanyakan proyeksi produksi rokok yang diperkirakan berdampak pada naiknya jumlah perokok dan pencantuman kretek sebagai warisan budaya bangsa. Koalisi pun meminta Menteri mencabut peraturan tersebut. Setelah tenggat dua pekan terlewati, Koalisi mengirimkan somasi kedua pada 19 Januari lalu. Berbeda dengan somasi pertama, kali ini Kementerian Perindustrian sigap menanggapi. Kementerian mengundang perwakilan Koalisi pada 18 Februari lalu. Yang memenuhi undangan antara lain Kartono dan Hery. ”Wakil dari Kementerian berjanji menyampaikan aspirasi itu kepada Menteri,” kata Hery. Janji tinggal janji.

Lewat tiga pekan, Koalisi tak melihat sinyal positif dari Kementerian. Karena itu, pada 16 Maret lalu, mereka mengirimkan somasi ketiga, yang tak pernah mendapat balasan. ”Koalisi memutuskan menempuh jalur hukum,” ucap Hery. Koalisi kemudian meminta pandangan pengacara publik yang tergabung dalam Solidaritas Advokat Publik untuk Pengendalian Tembakau Indonesia (Sapta). Pengacara yang dimintai pandangan antara lain Azas Tigor, Tubagus H. Karbiyanto, Julius Ibrani, dan Todung Mulya Lubis.

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *